Memahami Hak Perempuan dalam Islam

May 22, 2013 1:27 PM by

Sahar Deshmukh mempertanyakan: Apakah hak-hak perempuan dalam Islam, dan seberapa akurat kita menafsirkan dan mengimplementasikannya?

Memahami Hak Perempuan dalam Islam_Aquila Style

Gambar: Salam Stock

Islam masih terus menjadi sasaran telaah kritis, terutama jika menyangkut perihal hak-hak perempuan. Dengan hadirnya beragam kisah pencipta headline seperti kisah Malala Yousafzai, seorang pelajar perempuan asal Pakistan yang ditembak karena ia menuntut pendidikan untuk anak perempuan, semakin penting untuk memahami apa saja hak-hak yang diberikan dalam keyakinan kita.

Sepanjang sejarah kaum perempuan telah berjuang mendapatkan persamaan. Hak untuk memilih, perceraian dan pewarisan adalah semua pencapaian yang dibuat pada abad ke-19 dan 20. Setelah bertahun-tahun berkampanye yang dikenal dengan gerakan hak pilih, sebagian perempuan di Inggris memenangkan hak suara di tahun 1918. Sepuluh tahun kemudian hak ini diperluas untuk seluruh perempuan usia di atas 21 tahun.

Namun Islam, sebuah agama yang berusia 1.400 tahun, telah memberikan hak-hak ini kepada perempuan.

Perempuan dan laki-laki adalah setara

Tuhan berfirman di dalam Al Quran, ‘Wahai manusia! Sungguh Kami telah menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa’. (Surah Al Hujurat, 49:13)

Ayat ini menghapus pendapat bahwa laki-laki lebih unggul ketimbang perempuan. Malahan, menekankan bahwa derajat seseorang akan bertambah hanya dengan tingkat ketakwaannya.

Namun masih banyak pendapat di kalangan muslim maupun nonmuslim yang menyatakan bahwa perempuan dan laki-laki tidak diperlakukan setara.

Ayaan Hirsi Ali, seorang feminis terkemuka dan muslim yang beralih menjadi ateis, adalah salah satu dari sekian perempuan yang sependapat dengan ideologi ini.
Dalam sebuah wawancara dengan Daily Life dia berkata, ‘Kita memiliki sebuah agama (Islam) yang mendikte dengan ketat di mana seharusnya posisi perempuan; yaitu di rumah, bersama anak-anaknya. Ia harus menutup seluruh badannya untuk mencegah para pria menjadi tertarik dan terangsang. Hal itu yang perlu kita diskusikan sebagai feminis. Apakah itu adil?’

Jadi pertanyaannya tetap sama, apa hak-hak perempuan di dalam Islam? Seberapa akurat kita menginterpretasikan dan mengimplementasikannya?

Hak-hak kita dan kebebasan

Pengetahuan dianggap sebuah bagian yang esensial dari Islam, yang mendorong laki-laki maupun perempuan untuk mencapai pemahaman agama dan hidup yang lebih baik. Sementara media terus-menerus mengingatkan kita tentang kehidupan para perempuan muda di belahan dunia lain yang berjuang untuk mendapatkannya.
Salah satu dari banyak pencapaian perempuan dalam dunia modern adalah hak untuk bekerja. Tak ada ayat dalam Al Quran atau hadis sahih yang melarang perempuan untuk bekerja, selama pekerjaan mereka berada dalam batas-batas Islam. Tentu saja, ini berlaku pula untuk laki-laki.

Bahkan Arab Saudi, sebuah negara yang terkenal dengan hukum dan aturannya yang ketat, kini menawarkan lebih banyak pilihan profesi bagi perempuan selain bidang kesehatan dan pendidikan.

Fakta lain yang layak diingat kembali adalah pernikahan paksa tidak diperkenankan dalam Islam.

Dalam sebuah kuliah umum yang diselenggarakan oleh Islamic Research Foundation, presidennya dan seorang pembicara publik termasyur Dr Zakir Naik mengatakan, ‘Tak seorang pun – tidak juga ayahnya – dapat memaksa putrinya untuk menikah tanpa persetujuannya.’

Ia menjelaskan lebih jauh dengan sebuah hadis dari Sahih Bukhari tentang perempuan yang mendatangi Nabi Muhammad (SAW) setelah dipaksa menikah oleh ayahnya. Nabi (SAW) kemudian menyatakan bahwa pernikahan itu tidak sah, mempertegas pentingnya syarat persetujuan bersama dari kedua belah pihak yang terlibat.

Perempuan juga mempunyai hak untuk mengajukan cerai. Namun banyak yang merasa bahwa prosedur perceraian yang berdasarkan Syariah, sebuah kode etik moral, tidak adil dan berpihak kepada laki-laki.

Tahun lalu, sebuah kelompok aktivis perempuan di India menuntut amandemen terhadap Muslim Personal Law yang sudah berjalan, sehubungan dengan isu-isu tentang perceraian dan pewarisan.

‘Para ulama mengabaikan apa yang dikatakan Al Quran tentang perihal kehidupan perempuan,’ ujar Zakia Soman, anggota pendiri Bharatiya Muslim Mahila Andolan, dalam sebuah wawancara dengan New York Times. ‘Dewan Muslim Personal Law tidak merepresentasikan seluruh muslim. Tak seorang pun yang memilih mereka, dan hanya ada sedikit perempuan dalam organisasi mereka. Mereka tidak mengakui kesetaraan perempuan, hal yang sangat tidak Islami. Tuhan tidak membeda-bedakan antara laki-laki dan perempuan.’

Perceraian sangat tidak dianjurkan dalam Islam, namun ditawarkan sebagai sebuah opsi ketika perdamaian sudah tidak memungkinkan lagi. Dan tidak tepat mengatakan bahwa laki-laki memiliki hak eksklusif untuk memutus sebuah pernikahan dengan mengucap talak (cerai) sebanyak tiga kali. Kesadaran pikiran sangat krusial dalam menentukan sah tidaknya metode ini dan pihak berwenang mempunyai tanggung jawab untuk memastikan keadilan bagi semua pihak yang terlibat.

Yang menyedihkan, di sisi ini komunitas muslim masih gagal dengan menghalangi pembebasan perempuan dari para suami yang melakukan kekerasan dan tidak memperlakukan mereka dengan kasih sayang.

Hak-hak kita yang diberikan oleh Islam sesuai dengan karakteristik gender kita karena kita memang berbeda satu sama lain. Dijabarkan oleh Tuhan dalam Al Quran (Surat An Nisa, ayat 34) bahwa laki-laki adalah pelindung dan pemelihara bagi istri-istrinya, sehingga menjadi figur pemimpin dalam keluarga. Sebaliknya, perempuan harus mematuhi suaminya dan menjaga kepemilikan mereka.

Jika laki-laki memiliki tanggung jawab finansial, maka perempuan bertanggung jawab terhadap kesejahteraan emosional bagi suami dan anak-anaknya. Dengan demikian mereka memenuhi aspek yang berbeda dalam kehidupan pernikahan mereka, namun mereka melakukannya dalam kapabilitas gendernya.

Terdapat beberapa hukum dalam Syariah yang diharapkan oleh banyak perempuan untuk diubah. Banyak yang bertanya ‘Mengapa perempuan mendapatkan bagian yang lebih kecil dalam pewarisan? Mengapa laki-laki boleh bertelanjang kaki di pantai sementara perempuan berkeringat di dalam burka?’ Dan daftarnya masih panjang.

Tapi permasalahannya bukan bahwa Syariah tidak memberikan para perempuan apa yang menjadi hak mereka. Akan tetapi, masyarakat dan organisasi-organisasi muslimlah yang tidak menginterpretasikan teks keagamaan itu dengan tepat.

Jadi sebelum lebih banyak lagi perempuan bertelanjang dada berdemo melakukan protes atas nama hak-hak perempuan muslim, mari kita ingatkan mereka untuk lebih mempelajari Islam secara menyeluruh daripada mencomot bagian-bagian tertentu yang seolah sesuai dengan argumen mereka.

Keterangan: artikel ini telah direvisi pada tanggal 24 Mei 2013 untuk menambahkan link ke berita mengenai demo kelompok FEMEN.

TAGS: ,

Komentar

comments powered by Disqus